IBU TANGGUH, ARSITEK GENERASI UNGGUL
Wanita adalah tiang Negara. Ungkapan ini demikian akrab dalam ingatan kita, sehingga saking akrabnya, kita terkadang lupa untuk mengingat kedalaman makna yang dikandungnya.
Sebagaimana layaknya sebuah tiang, wanita diibaratkan sebagai penyangga bagi tegaknya sebuah masyarakat atau negara. Ini berarti keberadaan kaum wanita, baik dan buruknya, sangat menentukan eksis tidaknya sebuah masyarakat atau negara, mengingat bahwa wanita, terutama dalam kedudukannya sebagai ibu berperan sangat penting dalam membentuk dan membangun sosok suatu generasi. Wajar jika dalam islam, sosok ibu di posisikan figure sentral pendidikan dengan menjadikannya sebagai madrasah pertama (madrasah al-ula) bagi anak
Generasi Ideal, Cerminan Ibu Ideal
Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus mujtahid. Pada Diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam. Sehingga dengan ghiroh yang demikian, umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “Khoiru Ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mareka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga belasan abad lamanya.
Keberadaan generasi yang demikian sekaligus menunjukan kaberhasilan para ibu terdahulau dalam mendidik anak-anak mereka, hingga mereka benar-benar menjadi generasi Rabbani yang unggul, yang mengerti tentang arti dalam hakekat hidup, makna kebahagiaan hakiki dan semangat pengabdian pada islam. Hal ini niscaya, mengingatkan dalam sosok para ibu terdahulu juga tertanam keyakinan yang kuat, bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sehingga tidak ada harta yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka, selain keimanan yang kuat, kecintaan akan ilmu dan amal sholih serta semangat berkorban demi kemuliaan ummat dan islam semata.
Bagaimana Dengan Sekarang?
Jika kita refleksikan ke masa sekarang, keprihatinanlah yang justru muncul. Bagaimana tidak? Saat ini kta sulit menemukan gambaran generasi rabbani dalam wadah masyarakat yang islami. Yang ada justru masyarakat “tanpa bentuk” dengan anak-anak yang mayoritas terdidik oleh para ibu yang hedonis dan materialistis. Yakni para ibu, yang sekalipun tak sedikit dari mereka sempat mengenyam pendidikam tinggi, tapi tidak cukup cerdas untuk mengerti makna hidup dan tujuan sesunggihnya dari keberadaan mereka di dunia ini. Mereka juga tak mampu memahami apa yang dipahami para ibu terdahulu, bahwa anak adalah amanah yang harus mereka didik sesuai dengan kehendak Pemberi Amanah, yaitu Allah SWT sebagai Al-Kholiq Al-Mudabbir. Yang justru mereka pahami hanyalah, bahwa anak adalah semata asset ekonomi yang harus mereka didik demi dan tujuan-tujuan materi, hingga tak sedikit dari mereka yang dengan ringan hati menyerahkan peran dan tanggung jawab keibuannya kepada orang lain, pembantu rumah tangga, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan televisi.
Dengan kondisi yang demikian, wajar kepribadian generasi muda Islam saat ini pun cenderung menjadi sangat rancu dan jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka bahkan tersibghoh gaya serba permissive/ bebas yang lahir akibat proses sekulerisasi pemikiran dan sekulerisasi gaya hidup yang berjalan secara perlahan melalui berbagai cara dan bentuk. Wajar puyla jika mereka tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian ganda, ambivalen dan lebih suka menjadi pengekor dan pembebek daripada berusaha bangkit berjuang untuk kembali memimpin umat-umat lain di dunia.
Dengan kata lain, kondisi ini sekaligus mewujudkan bahwa untuk dan hingga saat ini, kaum kafir telah cukup banyak menuaihasl dari skenario jahat (makar) mereka dalam upaya menjauhkan kaum muslimin dari aqidah islam yang sempuna. Salah satunya adalah dengan menggiring para muslimah ke kancah kehidupan materialistis dan individualis seperti yang gencardiserukan oleh para feminis melalui ide-ide emansipasi dan ide kesetaraan dan kedila gender (KKG). Dan hasilnya, banyak ide diantara muslimah yang terkecoh, sehingga mereka lebih suka menanggalkan kebanggaan menjadi seorang ibu, daripada harus kehilangan kesempatan untuk meraih karir yang setinggi-tingginya. Akibatnya, anak-anak yang mereka lahirkan pun tumbuh tanpa asuhan dan didikan, sehingga sebagian besar dari mereka tak lebih dari anak-anak tanpa masa depan, yang tidak bermanfaat, meski bagi dirinya sendiri sekalian! Lantas, bagaimana mungkin kita gantungkan harapan masa depan ummat pada pundak-pundak yang rapuh seperti ini?
Pentingnya Mengoptimalkan Peran Ibu
Menghadapi kondisi buruk yang terjadi, kita diperintah untuk tudak berpasrah diri. Laa yughoyyiru maa biqoimin hatta yughoirumaa bi anfusihim. Apalagi masa depan ummat ini mau tidak mau menjadi salah satu tanggung jawab kita, termasuk upaya untuk mengembalikan kemuliaan ummat dengan membangun kembali sosok generasi mumpuni sebagaimana generasi-generasi terdahulu. Caranya tidak lain dengan membimbing dan membina para ibu ummat saat ini agar memiliki kualitas sebagaimana para ibu terdahulu.
Merujuk pada beberapa Nash dan sekian banyak tauladan yang di tunjukan dalam perihidup para Shahabiyat ra. Setidaknya dapat diungkapkan beberapa criteria yang harus dimiliki oleh setiap ibu sehingga bias mengoptimalkan peran dan fungsinya dalam mempersiapkan generasi unggul, antara lain :
1) Memiliki ketaqwaan yang tinggi yang dimanifestasikan dalam pola piker dan pola sikap yang senantiasa berstandar pada islam (bersyakhsiyyah Islamiyah/berkepribadian Islam). Dengan ketakwaan yang tinggi, seorang ibu akan memiliki keyakinan bahwa anak adalah amanah Allah SWT. Ibu seperti ini akan menggembleng anaknya agar memahami hakekat dan tujuan hidup, menanamkan keimanan yang kokoh akan Allah Al-Khaliq sekaligus mengajarkan pada mereka untuk tunduk dan patuh pada aturan Penciptanya. Adapun dengan berkepribadian Islam, seorang ibu akan tampil sebagai qudwah bagui anak-anak mereka dalam hal berpikir dan bersikap. Karena anak ibarat kaset kosong yang akan merekam segala tindak-tanduk orangtuanya, terutama ibu, sehingga kepribadian ibu juga akan dicerap menjadi kepribadian anak-anaknya.
2) Memiliki kesadaran untuk mendidik anak sebagai asset perjuangan dan masa depan umat. Saat ini umat Islam membutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dalam perjuangan untuk bangkit kembali sebagai khoyru ummah sebagaimana yang seharusnya (Lihat QS. Ali Imran:110). Pemimpin yang tangguh hanya lahir dan terbentuk dari ibu yang tahu persis posisi anak sebagaiasset perjuangan dan masa depan ummat. Ibu yang memiliki kesadaran semacam ini akan berusaha menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak, membekali anak dengan sifat-sifat terpuji bagi seorang pemimpin seperti karakter mandiri, rela berkorban, lemah lembut, bertanggung jawabn, peduli ummat berikut ilmu-ilmu yang dibutuhkan.
3) Memilki kesadaran politik Islam. Kesadaran politik Islam artinya memahami dan meyakini bahwa pemeliharaan urusan-urusan umat (politik = pemeliharaan urusan-urusan umat) harus diatur dengan syari’at Islam. Inilah bentuk kesadaran politik yang paling mendasar. Seorang muslim seharuanya paham dan yakin, bahwa ajaran Islam sempurna dan menyeluruh, termasuk mengatur masalah politik. Karena setiap muslim wajib masuk ke dalam Islam kaffah, maka jelas semua hukum-hukum yang menyangkut politik pun harus diimani dan diamalkan, termasuk oleh para ibu. Dengan demikian, seorang ibu juga harus memiliki ilmu yang utuh tentang syariat Islam, bagaimana penerapannya dalam kehidupan, siapa yang berkewajiban menerapkan, urusan apa yang menjadi hak dan kewajibannya dan apakah hokum-hukum itu sudah tertunaikan. Dengan demikian, seorang ibu yang memiliki kesadaran politik Islam akan memiliki kepekaan yang tinggi dalam melihat kedzaliman-kedzaliman yang menimpa umat akibat tidak diterapkannya aturan-aturan Islam. Diapun akan berperan untuk menghilangakan kedzaliman itu dengan aktivitas dakwah dan menjadikan anak-anaknya juga menjadi kader dakwah yang turut mengawasi pelaksanaan syariatIslam dalam mengatur urusan-urusan kehidupan masyarakatnya.
4) Memiliki pengetahuan yang luas tentang konsep pendidikan anak. Sekalipun seorang ibu sudah memiliki 3 poin kriteria di atas, pada tataran praktis dia membutuhkan “ilmu tambahan” terkait dengan konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya agar pembentukan generasi unggul dapat terwujud dengan baik. Misalnya bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan perlakuan dan metoda pendekatan yang berbeda. Atau bahwa perubahan pendidikan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instant, tetapi bertahap. Maka di sinilah dibutuhkan ekstra kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak. Atau juga pengetahuan terkait masa emas anak yang harus ditangani secara optimal oleh setiap ibu agar pembentukan dasar-dasar proses berpikir anak dan tumbuh kembangnya bisa dimaksimalkan.
5) Memilki sifat penyayang, karena kasih sayang ibu merupakan jaminan awal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dan aman. Ibu penyayang akan memelihara anaknya dengan curahan kasih sayang sejak dalam kandungan hingga anak mampu mandiri, memiliki karakter penyayang, penuh empati dan bertanggung jawab, di mana karater-karakter seperti ini mutlak dimiliki calon-calon pemimpin masa depan.
6) Memiliki tutur bahasa yang baik (halus, fasih, dan baligh), di mana ketika kita ingin menanamkan kecintaan anak kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tentu tidak bisa dilakukan dengan lembut dan jelas (baligh). Selain itu, dalam menyampaikan ajaran Islam yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang nota bene berbahasa Arab, maka seorang ibu selayaknya menguasai bahasa Al-Qur’an ini.
7) Memiliki kepekaan (ihsas) yang tinggi terhadap lingkungan. Hal ini mengingat, lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap tumbuh kembang anak. Sehingga setiap ibui harus bisa memastikan anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang baik dengan cara terlibat aktif dalam mengubah suasana lingkungan yang buruk menuju kehidupan yang Islami.
8) Memiliki rasa pengorbanan yang tinggi, mengingat peran ibu lebih dominan ‘memberi’ daripada ‘menerima’. Dengan demikian, jika tumbuhnya rasa pengorbanan ini semata-mata karena ingin menggapai ‘ridha Allah’, maka hak-hak anak tetp akan terpenuhi secara pasti bagaimanapun kondisi ibunya. Manakala (misanya) seorang ibu menghadapi dau pilihan antara yang wajib (tugas utamanya) dan yang mubah (pekerjaan lainnya), maka tentu si ibu akan memilih yang wajib karena adanya dorongan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan demi masa depan anak yang diharapkan. Lebih dari itu, generasi masa depan yang ingin diwujudkan adalah generasi yang jiwa pengorbanannya tinggi untuk memperjuangkan ketinggian dan kemuliaan umat dan Islam. Oleh karena itu, sudah pasti mereka membutuhkan para Pembina yang membina mereka ke arah sana. Dalam hal ini, ibulah orang yang paling tepat sebagai Pembina mereka sejak dini.
Inilah antara lain kriteria ibu tangguh yang diharapkan oleh Islam. Sayangnya, sosok ibu tangguh yang dijamin akan mampu mendidik anak-anak unggul calon pemimpin masa depan ini masih sangat sedikit jumlahnya. Wajarlah jika potret generasi saat ini pun masih nampak buram.
Tanggungjawab Masyarakat dan Negara Dalam Upaya Optimalisasi Peran Ibu
Banyak fakta yang menunjukkan bahwa lingkungan/masyarakat sangat berpengaruh terhadap tumbuh-kembang dan kepribadian anak. Tak jarang anak yang berasal dari keluarga ideal, taat beragama, tumbuh menjadi anak bermasalah. Masyarakat yang rusak dan sakit seperti yang terjadi saat ini, tentu sulit melahirkan generasi yang berkualitas sekalipun bukan berarti tidak mungkin. Setidaknya, para orang tua akan merasa berat dan harus bekerja ekstra keras mendidik anak di tengah gelombang kemaksiatan dan krisis multidimensi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Terlebih, kerusakan masyarakat berlangsung secara terbuka dan dijaja secara terus-menerus oleh berbagai media (televisi, radio, handphone, internet, Koran, dll) tanpa bisa dibendung, sementara itu, sense of control dan budaya amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri masyarakat Islam sudah tak nampak lagi.
Adapun negara seharusnya bertanggungjawab untuk menjamin tumbuh kembang anak, sekaligus menjamin pelaksanaan peran ibu secara optimal dengan menciptakan kondisi yang kondusif melalui penerapan berbagai aturan yang shahih. Sayangnya, saat ini negara seolah tak bisa berbuat banyak. Negara cenderung abai terhadap nasib generasi masa depan umat akibat krisis multidimensi yang membelit dan menuntut penyelesaian. Bahkan penerapan aturan-aturan hidup sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam, mulai dari sistem ekonomi yang melanggengkan kemiskinan, sistem pendidikan sekuler yang hanya mencetak anak didik yang cerdas tapi kering iman, sistem hukum yang menguntungkan para koruptor dan penjahat, aturan sosial yang menumbuh suburkan pornografi-pornografi dan dekadensi moral serta aturan rusak lainnya justru menjadi pengukuh kerusakan sistemik ini sehingga menyulitkan para ibu untuk mengoptimalkan perannya mempersiapkan generasi mumpun.
Oleh karena itu, membangun kesadaran para ibu tentang tanggung jawabnya yang sangat besar, sekaligus menciptakan kondisi yang kondusif bagi terlaksananya tanggung jawab tersebut masyarakat secara keseluruhan dengan Islam kaffgah, sekaligus bahu-membahu membangun sistem politik Islam yang akan menerapkan aturan/sistem pendidikan yang mampu mendidik para ibu, calon-calon ibu tangguh dan anak-anak calon pemimpin umat di masa depan.
Pada akhirnya, semoga para muslimah kembali menyadari akan besarnya tangung jawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimin, sehingga mereka akan terpacu untuk berlomba meraih kembali kemuliaan sebagaimana para ibu di masa Islam terdahulu. Yakni dengan membina diri mereka dan masyarakat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan-aturan Islam, sekaligus berjuang menegakkan syari’at Islam dalam wadah Khilafah ala Minhajin Nubuwwah. Dengan demikian, mereka akan siap menjadi pendidik dan pencetak generasi mumpuni yang juga akan membawa ummat ini kepada kebangkitan hakiki seperti yang diinginkan. Insya Allah.
~Serpong, januari 2009